Pemalang Kota Lumpuh Dikepung Banjir: Kawasan Citywalk yang Baru Diresmikan Turut Tenggelam
PEMALANG, Realitapublik.id — Cuaca ekstrem yang melanda Jawa Tengah mengakibatkan banjir hebat di jantung Kota Pemalang, Sabtu (31/01/2026) malam. Hujan deras dengan intensitas tinggi tidak hanya merendam pemukiman warga, namun juga melumpuhkan akses jalan protokol serta menenggelamkan kawasan Citywalk yang baru saja diresmikan sebagai ikon wisata kota.
Ketinggian air dilaporkan bervariasi mulai dari 20 sentimeter hingga mencapai 1 meter di titik terparah.
Banjir hidrometeorologi ini berdampak signifikan pada empat kelurahan di wilayah Pemalang Kota, yakni Kelurahan Sugihwaras, Kebondalem, Pelutan, dan Mulyoharjo. Meluapnya saluran drainase menyebabkan air masuk ke rumah-rumah warga dan menutup akses jalan utama, seperti Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan Ahmad Yani.
Akibatnya, arus lalu lintas di berbagai titik protokol lumpuh total. Puluhan kendaraan bermotor dilaporkan mogok setelah nekat menerobos genangan air yang menutupi mesin.

Sorotan tajam tertuju pada kawasan Citywalk di ruas Jalan Jenderal Sudirman. Proyek yang digadang-gadang Bupati Pemalang sebagai wajah baru estetika kota ini justru tak berdaya menghadapi terjangan air.
Seorang warga Kelurahan Sugihwaras, Toni (43), menyebut banjir di pusat kota sudah menjadi "agenda rutin" setiap hujan lebat turun. "Kalau sudah hujan lebat, pasti banjir. Terutama di depan SMA/SMK Muhammadiyah dan titik-titik kelurahan kami. Drainasenya tidak mampu menampung air," keluh Toni.
Kondisi ini seolah membenarkan kritik pedas yang pernah dilontarkan anggota DPRD Pemalang, Heru Kundhimiarso, saat rapat Pansus RPJMD pada Juni 2025 lalu. Kala itu, ia memperingatkan bahwa pembangunan wajah kota (estetika) tidak akan berarti jika mengabaikan persoalan mendasar seperti sistem drainase.
"Jangan sampai dokumen pembangunan hanya indah di atas kertas tapi tidak menyentuh persoalan nyata warga. Banjir di pusat kota adalah akibat lemahnya perencanaan drainase. Saluran air sempit, dangkal, dan kurang terawat," ujar Heru dalam catatan kritisnya setahun silam.
Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi dari BPBD Kabupaten Pemalang terkait langkah evakuasi maupun penanganan darurat di wilayah perkotaan.
Masyarakat dan pengguna jalan mendesak Pemerintah Kabupaten Pemalang untuk melakukan evaluasi total terhadap tata kelola air di pusat kota. "Harapan kami, pemerintah segera membenahi ini. Ini jantung kota, urat nadi aktivitas warga. Malu kalau pusat kota saja tenggelam setiap hujan," ujar Arifin, salah satu warga pengguna jalan.
Comments
Post a Comment