Gandeng DPRD, BPBD Jatim Bentuk Destana di Sumberanyar Situbondo

SITUBONDO, realitapublik.id – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur secara masif terus memperkuat kesiapsiagaan masyarakat akar rumput menghadapi ancaman bencana. Langkah nyata ini diwujudkan melalui pembentukan dan penguatan Desa Tangguh Bencana (Destana) yang diselenggarakan di Balai Desa Sumberanyar, Kecamatan Mlandingan, Kabupaten Situbondo, pada Jumat (6/11/2026). Kegiatan strategis yang menempatkan desa sebagai garda terdepan penanganan bencana ini turut difasilitasi oleh Ir. H. Yoyok Mulyadi, M.Si., Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur Komisi B dari Fraksi PKB. Guna menunjang aksi taktis relawan di lapangan, H. Yoyok Mulyadi juga menyerahkan sejumlah bantuan stimulan, di antaranya alat pemotong kayu (senso), gerobak dorong (argo), serta sirine darurat yang dapat dibunyikan sebagai sistem peringatan dini saat terjadi bencana. Selain bantuan dari H. Yoyok Mulyadi, Desa Sumberanyar juga menerima bantuan dari Gubernur Jawa Timur berupa 50 bibit tanaman buah, diantaranya Kelengkeng, Durian, Jambu Air dan Alpukat. Sejumlah bantuan tersebut secara simbolis diterima oleh Kepala Desa Sumberanyar, Taufiq Hidayat. [caption id="attachment_25298" align="aligncenter" width="640"] Bantuan dari H. Yoyok Mulyadi, dan Gubernur Jatim.[/caption] Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Provinsi Jawa Timur, melalui Bige Agus Wahjuono, menegaskan bahwa program penguatan Destana ini dilaksanakan secara masif di 38 kabupaten/kota di seluruh Jawa Timur. Berdasarkan arah kebijakan dan program strategis BPBD Jatim, pembentukan Destana mengusung lima tujuan utama demi keselamatan masyarakat. "Pertama, adalah Mengenali Risiko Bencana. Kita ingin masyarakat mampu mengidentifikasi dan mengenali secara jeli potensi serta ancaman bencana di lingkungan sekitarnya," ujar Bige Agus Wahjuono dalam penjelasannya di hadapan peserta. Tujuan kedua, lanjut Bige, fokus pada Pencegahan dan Pengurangan Risiko. Masyarakat dilatih untuk melakukan berbagai upaya preventif, mitigasi, serta Pengurangan Risiko Bencana (PRB). Hal ini krusial agar dampak kerusakan lingkungan, kerugian materiil, hingga korban jiwa dapat diminimalkan sedini mungkin. Poin ketiga yang tidak kalah penting adalah Meningkatkan Kesiapsiagaan. Program ini membekali masyarakat, perangkat desa, hingga kelompok rentan agar senantiasa tanggap dan responsif saat situasi darurat terjadi. Komitmen inklusivitas juga ditekankan melalui penguatan unit layanan disabilitas serta rintisan pesantren tangguh bencana. "Keempat, kita mendorong adanya Pengorganisasian Sumber Daya. Desa diarahkan untuk mampu mengorganisir sumber daya lokal secara mandiri. Langkah ini efektif untuk mengurangi kerentanan sekaligus mendongkrak kapasitas ketahanan wilayah," kata tenaga ahli BPBD Jatim ini. Sementara tujuan kelima adalah mewujudkan Pemulihan Cepat. Melalui pembekalan yang matang, desa-desa di Jawa Timur dipersiapkan agar memiliki tingkat adaptasi yang tinggi, sehingga mampu memulihkan diri dengan segera (recovery) setelah mengalami dampak atau hantaman bencana. [caption id="attachment_25299" align="aligncenter" width="640"] Tenaga Ahli dari BPBD Jawa Timur, Bige Agus Wahjuono, S.E., saat berbicara dihadapan peserta Destana di Balai Desa Sumberanyar, Kecamatan Mlandingan, Kabupaten Situbondo.[/caption] Di hadapan seluruh peserta, Bige Agus Wahjuonob juga menyampaikan bahwa bantuan berupa alat senso, argo, serta sirine dari H. Yoyok Mulyadi, Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur Komisi B, dan bibit tanaman buah dari Gubernur Jatim, semoga bermanfaat bagi masyarakat Desa Sumberanyar. [caption id="attachment_25300" align="aligncenter" width="640"] Plt. Camat Mlandingan, Dimas Arisandy Pradana, S.STP.[/caption] Dalam kesempatan yang sama, Plt. Camat Mlandingan, Dimas Arisandy Pradana, menyampaikan apresiasi mendalam atas kepedulian BPBD Jatim dan DPRD Jatim terhadap wilayahnya. Di hadapan unsur Forkopimcam, Kepala Desa Sumberanyar, serta seluruh peserta, Dimas memaparkan kondisi geografis Kecamatan Mlandingan yang memiliki kompleksitas kerentanan tinggi. Secara umum, kontur tanah di wilayah ini terdiri dari 57 persen tanah berbukit, 28 persen dataran, dan 15 persen wilayah pantai. "Desa Sumberanyar sendiri berada di dataran tinggi dengan topografi berbukit-bukit di kompleks Pegunungan Ringgit-Beser yang tingkat kemiringan tanahnya sangat tinggi. Morfologi lereng curam ini membuat Sumberanyar memiliki kerentanan gerakan tanah atau longsor yang cukup tinggi. Selain itu, desa ini juga dilalui dua sungai besar yang debit airnya melonjak drastis saat musim penghujan, sehingga rawan memicu banjir," ungkap Dimas. Dimas menegaskan bahwa urusan penanggulangan bencana tidak bisa dibebankan kepada pemerintah sendirian. Pelatihan Tanggap Darurat Bencana Tahun 2026 ini dinilai sebagai ikhtiar bersama yang sangat krusial. "Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Dibutuhkan masyarakat yang tangguh, yang tahu persis apa yang harus dilakukan pada detik-detik pertama saat bencana terjadi. Saya minta para peserta mengikuti kegiatan ini dengan serius dan disiplin, serap ilmunya, lalu sebarkan kepada masyarakat luas," pintanya tegas. Mengakhiri sambutannya, Plt. Camat Mlandingan secara khusus menyampaikan rasa terima kasih kepada Ir. H. Yoyok Mulyadi, M.Si. atas pengawalan program penanggulangan bencana ini ke wilayahnya. "Terima kasih kepada Bapak Yoyok Mulyadi yang telah memfasilitasi dan mempercayakan pelaksanaan kegiatan ini di wilayah kami," pungkas Dimas. Dimas berpesan kepada pihak desa Sumberanyar agar alat-alat berupa senso, argo dan sirine tersebut dijaga dan dirawat dengan baik, serta bantuan bibit tanaman buah yang telah diterima oleh pihak desa tersebut agar segera ditanam, dan dipelihara dengan baik. Sebagai informasi, BPBD Provinsi Jawa Timur sementara ini telah menetapkan tiga desa baru di Kabupaten Situbondo sebagai Destana. Yakni Desa Pesisir (Kecamatan Besuki), Desa Jangkar (Kecamatan Jangkar), dan Desa Sumberanyar (Kecamatan Mlandingan).(*)

Comments

RUANG IKLAN GAMBAR Ukuran ideal 800 x 400 px